Kamis, 20 Agustus 2009

Main-main lagi dengan Kamera

Dah lama nih gak posting lagi, melihat blog terbengkalai, akhirnya ku putuskan tuk posting lagi. Tapi mau posting apa nih? gak ada ide sama sekali... Hm... Oh iya, setelah sedikit belajar foto-foto ama Ade ku pajang deh beberapa hasil foto ku.

Foto 1. Berjemur
Kecepatan 1/200, Apature F/3.6

Foto 2. Bunga Kuning
Hm.. lupa detailnya


Foto 3. Hinggap
Lupa detailnya juga


Foto 4. Becek
Kecepatan 1/125, Apature F/5


Foto 5. Gubuk Kayu
Udah diolah digital pake Photosop


Foto 6. It is Supposed to be Bandung Landscape
Jahitan dari 6 foto...

Kamis, 19 Februari 2009

Macro....

Gara-gara sering jadi seksi dokumentasi kalo pas GB jalan-jalan ato ada acara, jadinya gw suka foto-foto. Dengan berbekal kamera Canon pijaman dari sang kekasih, dimulailah perjuangan gw buat mengabadikan objek-objek di sekitar. Namun gw sekarang lagi suka ama foto makro, soalnya dengan foto makro gw bisa liat objek2 kecil yang biasanya cuma di liat sekilas jadi bisa di liat dengan detail. Ni beberapa foto yang gw ambil, ada juga hasil jepretan alin.

Foto ni foto kepik, gw ambil di area sawah deket rumah...
Foto laba-laba ini juga gw dapet dari tempat yang sama...
Kalo yang ini di ambil di Taman hutan raya Juanda...
Ini foto bunga yang gw ambil di depan kostan alin..
Ini juga sama
Didepan gua Jepang Tahura Juanda...
Ini di depan kostan alin juga...
Siput lagi merayap, di ambil di Tahura...
Di Tahura juga...
Nah kalo ini di depan kostan alin, abis ujan...
Ini di kampus, pas tugu soekarno...

Rabu, 28 Januari 2009

Pangandaran

Foto-foto waktu jalan-jalan ke pangandaran.

Foto di samping suasana Sunrise di pantai Timur Pangandaran



Lagi suap-suapan kelapa muda nih...

Wah... ada Tinky Winky nyasar nih...

Kapal nelayan lagi gak di pake di pantai barat pangandaran

Deuh.... lagi kejar-kejaran di pantai ya... kayak pelm india ajah....

Ada yang lagi surfing di Pantai Batu Karas...

Asyiknya dangdutan malem-malem, bayar pengamen buat maen selam 15 menit... (Penginapan sebelah ampe 1 jam lho...)

Gak tau apaan, apa rumput liar ato bulu babi, lokasinya di Pantai Karang Nini

Suasana sunrise pada hari senin, cerah berawan, jadinya gak keliatan si matahari...

Rabu, 10 Desember 2008

H.O.T

HOT-Hardtail On Tjikole, kompetisi kedua dalam dunia sepeda yang pernah gw ikuti. Acaranya tanggal 6 dan 7 Desember kemarin. Hm... gw masuk ke kelas junior atau Under 23 dan dapet nomor start 32. Hari pertama yang juga bersamaan dengan test ride United Patrol AM dan Spesialized 2009 gw pake buat test ride sepeda2 bagus itu... hm... nyamannya... cuma sayang uangnya gak nyaman kalo harus beli tu sepeda.

Waktu seeding run, gw yang turun di urutan 32 menempuh waktu 4'26"... waktu yang lama... soalnya yang berada pada posisi 1 (waktu tercepat) tu menempuh waktu 3'01". Ah... target final run tembus 4 menit....
Waktunya final run...
Dimulai dari master C, master B, kemudian master A, saatnya kelas Open, gerimis mulai turun.... Kelas open selesai, saatnya U23... Brrr.... hujan makin deras, trek makin basah... Hm.. giliran gw tiba. 5....4...3...2....1....GO!!!!
Sepeda gw kayuh... belok kiri... belok kanan... lompat... tibalah di tikungan cobra... sepeda di rem... gubrag.... ban belakang slip dan jatuh, stang melintir, gw berusaha berdiri lagi (gila susah banget mo berdiri juga, licin abis...) sepeda dinaikin lagi... dikayuh lagi... kini mulai hati2... (target: SELAMAT SAMPAI FINISH)... hm... jalanan sudah kaya sungai kecil, air plus lumpur nyiprat kemana-mana... kemata, mulut... hah... kapan finishnya...????

Hm... akhirnya sampai finish... Om anton teriak2 pake toa... No. 32... Nano dari GB ITB masuk...
Hm... catatan waktu yang buruk 5'54"...

Kamis, 04 Desember 2008

Jalan-jalan ke Maribaya sambil Foto-foto

Hari minggu, beberapa minggu yang lalu, gw ama ade jalan-jalan ke maribaya lewat dago pakar. Selama perjalanan kami foto-foto apa aja yang keliatannya bagus. Gw gak akan ngomong panjang lebar, liat aja foto-fotonya.
Foto disamping tu foto gw ama ade, diambil deket pintu masuk dago pakar. Foto di bawah maksudnya mo foto gubuk kecil itu, cuma karena pake kamera saku biasa zoomnya terbatas.






Senin, 10 November 2008

Sejarah Sepeda

Sepeda… sepeda… di satu sisi bisa jadi tempat penghilang kepenatan, untuk sarana olahraga, tambah teman, memulai petualangan baru, dan ketemu pacar di unit sepeda (he he he). Di sisi lain, bikin kaki ama tangan keseleo, kaki lecet-lecet, tabungan habis. Ahh… apalagi beberapa bulan terakhir, saya sudah jarang cross country, lebih sering downhill bareng teman-teman ato BAM. Menguras uang bulanan banget… Walo begitu tetep aja I like to ride my bicycle, everywhere I go, I ride my bike.


Sekarang mo tulis-tulis tentang sepeda ah… dimulai dari sejarah sepeda.


Nenek moyang sepeda diperkirakan berasal dari Perancis. Menurut kabar sejarah, negeri itu sudah sejak awal abad ke-18 mengenal alat transportasi roda dua yang dinamai velocipede. Bertahun-tahun, velocipede menjadi satu-satunya istilah yang merujuk hasil rancang bangun kendaraan dua roda.


Baron Karls Drais von Sauerbronn yang pantas dicatat sebagai salah seorang penyempurna velocipede. Tahun 1818, von Sauerbronn membuat alat transportasi roda dua untuk menunjang efisiensi kerjanya. Sebagai kepala pengawas hutan Baden, ia memang butuh sarana transportasi bermobilitas tinggi. Tapi, model yang dikembangkan tampaknya masih mendua, antara sepeda dan kereta kuda. Sehingga masyarakat menjuluki ciptaan sang Baron sebagai dandy horse.


Baru pada 1839, Kirkpatrick MacMillan, pandai besi kelahiran Skotlandia, membuatkan "mesin" khusus untuk sepeda. Tentu bukan mesin seperti yang dimiliki sepeda motor, tapi lebih mirip pendorong yang diaktifkan engkol, lewat gerakan turun-naik kaki mengayuh pedal. MacMillan pun sudah "berani" menghubungkan engkol tadi dengan tongkat kemudi (setang sederhana).


Sedangkan ensiklopedia Britannica.com mencatat upaya penyempurnaan penemu Prancis, Ernest Michaux pada 1855, dengan membuat pemberat engkol, hingga laju sepeda lebih stabil. Makin sempurna setelah orang Prancis lainnya, Pierre Lallement (1865) memperkuat roda dengan menambahkan lingkaran besi di sekelilingnya (sekarang dikenal sebagai pelek atau velg). Lallement juga yang memperkenalkan sepeda dengan roda depan lebih besar daripada roda belakang.


Namun kemajuan paling signifikan terjadi saat teknologi pembuatan baja berlubang ditemukan, menyusul kian bagusnya teknik penyambungan besi, serta penemuan karet sebagai bahan baku ban. Namun, faktor safety dan kenyamanan tetap belum terpecahkan. Karena teknologi suspensi (per dan sebagainya) belum ditemukan, goyangan dan guncangan sering membuat penunggangnya sakit pinggang. Setengah bercanda, masyarakat menjuluki sepeda Lallement sebagai boneshaker (penggoyang tulang).



Sehingga tidak heran jika di era 1880-an, sepeda tiga roda yang dianggap lebih aman buat wanita dan laki-laki yang kakinya terlalu pendek untuk mengayuh sepeda konvensional menjadi begitu populer. Trend sepeda roda dua kembali mendunia setelah berdirinya pabrik sepeda pertama di Coventry, Inggris pada 1885. Pabrik yang didirikan James Starley ini makin menemukan momentum setelah tahun 1888 John Dunlop menemukan teknologi ban angin. Laju sepeda pun tak lagi berguncang.


Penemuan lainnya, seperti rem, perbandingan gigi yang bisa diganti-ganti, rantai, setang yang bisa digerakkan, dan masih banyak lagi makin menambah daya tarik sepeda. Sejak itu, berjuta-juta orang mulai menjadikan sepeda sebagai alat transportasi, dengan Amerika dan Eropa sebagai pionirnya.


Kini, sepeda punya beragam nama dan model. Ada sepeda roda tiga buat balita, sepeda mini, "sepeda kumbang", hingga sepeda tandem buat dikendarai bersama. Bahkan olahraga balap sepeda mengenal sedikitnya tiga macam perangkat lomba. Yakni road bike/sepeda jalan raya, mountain bike/sepeda gunung,dan BMX.

sumber: Wikipedia

Selasa, 14 Oktober 2008

Jalan-jalan di Jayagiri

Hari Sabtu (11/10) kemarin akhirnya jadi juga hiking di Jayagiri bareng teman-teman dikampus. Kami berangkat dari kampus menggunakan angkutan umum menuju lembang-jayagiri. Perjalanan menuju lembang tidak begitu membosankan karena diisi oleh obrolan-obrolan menarik. Akhirnya sampai juga di pintu masuk Jayagiri, kami harus membayar tiket sebesar Rp.3000 per-orang. Ha ha... sepertinya dari pertama kali jalan, ongkos yang harus dibayar selalu Rp.3000.


Hm... foto di atas diambil saat di dekat pintu masuk Jayagiri. Sedangkan foto di samping adalah foto seseorang yang spesial buatku. Akhirnya dia mau ikut juga, setelah dibujuk dan dirayu semalaman. Selama perjalanan kami menemui hal-hal yang jarang kami temui di Bandung. Suasana yang tenang, udara yang masih segar, bunga-bunga liar yang tumbuh, penduduk lokal yang mencari kayu bakar, dan masih banyak lagi.






Seperti biasa, walau sudah pernah hiking di Jayagiri masih saja lupa jalan mana yang harus diambil. Eh... ternyata langsung keluar di jalan utama, karena hiking di jalan aspal tu nggak asik akhirnya kami balik arah dan mencari jalan lagi. Uh, untungnya ketemu juga jalan yang benar. Setelah mendaki bukit, menuruni lembah, dan menembus semak akhirnya sampai juga di puncak Gunung Tangkuban Perahu.

Setelah puas berfoto-foto dan berpanas-panasan di puncak, kami mencari tempat duduk dan membeli ketan bakar, lagi-lagi harganya Rp.3000. Lelah sudah hilang, perut sudah kenyang, mata udah berat ingin tidur. Ya... saatnya pulang deh. Dari puncak kami naik mobil omprengan menuju lembang. Di lembang kami menyempatkan diri untuk memebeli susu di kopersi susu cuma seharga Rp.3400 per liter ntuk susu murni dan Rp. 2500 untuk satu gelas yoghurt.